Karsa atau kaji ? siapa berani jadi pemimpin?

Sebagaimana kita ketahui, Jawa timur seakan membara oleh hiruk pikuknya PILGUB putaran pertama. Dalam relung hati, samar terasa pedih dan gembira

Pedih, pada melihat orang orang tua yang udah kaya-kaya masih juga ingin berebut kekayaan… ah entahlah….apa mereka yakin bahwa beliaulah yang paling pantas untuk memimpin Propinsi jawa timur. Sudahkah mereka instropeksi diri? Ah semoga sudah.

Gembira, sebab seolah-olah janji kampenye beliau akan terbayarkan dengan kenyataan. Tapi apabila enggak juga terlaksana sesuai janji beliau2 tuh,….. pertanyaannya apa beliau enggak takut ya menghadapi hukum Alloh suatu saat nanti?

Ah khusnudhon aja lah, semoga pemimpin propinsi ini kelak akan sesuai dengan harapan rakyak Jawa Timur. Amin

Tanpa berpihak pada golongan manapun, menetapkan panji2 islam…. so enggak malu maluin islam, bukankan yang menjatuhkan islam dari golongan islam sendiri…

Ah entahlah……………

Kadang saya sendiri merasa terganggu akan ulah beliau beliau saat kampanye, apa bener apa yang mereka janjikan akan terlaksana? Ah udahlah peace…….. aku berharap en berdoa semoga yang terbaiklah yang terpilih…… walaupun aku skeptis akan kemampuan beliau-beliau…… tapi ya sudahlah. Wong aku sendiri juga gak ngerti apa-apa

Untuk bahan perenungan semoga beliau2 yang kelak terpilih menjadi Gubernur, enggak buta akan kitah2 sebagai pemimpin. Berikut disajikan beberapa pandangan islam yang berkaitan dengan kepemimpinan

Rasulullah SAW bersabda: Demi Allah, saya tidak akan menyerahkan jabatan kepada orang yang meminta dan tidak pula kepada orang yang berharap-harap untuk diangkat. (H.R. Hukhari dan Muslim). Senada dengan hadits ini, Nabi Muhammad SAW berkata kepada Abdur Rahman Ibnu Samurah ra: Wahai Abdur Rahman, janganlah engkau meminta untuk diangkat menjadi pemimpin. Sebab, jika engkau menjadi pemimpin karena permintaanmu sendiri, tanggung jawabnmu akan besar sekali. Dan jika engkau diangkat tanpa permintaanmu sendiri engkau akan ditolong orang dalam tugasmu. (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Abu Dzar ra. pernah berkata: Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak hendak mengangkatku memegang suatau jabatan?

Rasulullah SAW menepuk bahuku dan berkata: Wahai Abu Dzar, engkau ini lemah sedangkan jabatan ini amanah yang pada hari kiamat kelak harus dipertanggungjawabkan dengan risiko penuh penghinaan dan penyesalan, kecuali orang yang memenuhi syarat dan dapat memenuhi tugas yang dibebankan kepadanya dengan baik. (HR. Muslim). Dari keterangan-keterangan hadits di atas, maka dapat disimpulkan bahwa mengajukan diri untuk diangkat menjadi pemimpin adalah sesuatu yang tercela apalagi tidak dibarengi dengan kelayakan diri menjadi pemimpin. Namun sebaliknya, apabila seseorang diangkat menjadi pemimpin karena dukungan atau permintaan umat, memenuhi syarat dan mampu menjalankan tugas dengan amanah maka yang seperti ini tidaklah tercela.

Jika Islam memandang bahwa berharap atau meminta diangkat menjadi pemimpin atau pejabat itu tercela, lalu bagaimana dengan apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Yusuf as yang meminta jabatan dan menonjolkan dirinya agar diberikan jabatan itu? Sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran: Jidikanlah aku bendaharawan Negara (Mesir). Sesungguhnya aku pandai menjaga lagi berpengetahuan. (Q.S. Yusuf: 55). Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran: (Di antara sifat hamba Allah yang mendapatkan kemuliaan) adalah orang-orang yang berkata: Wahai Tuhan kami anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa. (Q.S. Al-Furqan: 75). Nabi Yusuf as meminta dan menonjolkan dirinya untuk diangkat menjadi pemimpin (sebagaimana disebutkan dalam Q.S Yusuf: 55) karena ia melihat tidak ada orang yang teguh memperjuangkan kebenaran dan mengajak umat kepada kebenaran. Dan ia merasa mampu untuk itu, namun ia belum dikenal. Oleh karena itu, ia perlu meminta dan menonjolkan dirinya. Demikian pula permohonan seorang muslim kepada Allah SWT untuk diangkat menjadi imam (pemimpin) tidaklah tercela dan terlarang. Karena hal itu merupakan doanya kepada Allah SWT, yang dilarang adalah permohonan kepada manusia.

Akhirnya, bisa ditarik beberapa ketentuan dari deskripsi di atas, antara lain pada prinsipnya berambisi menjadi pemimpin dengan memintanya kepada makhluk adalah sikap yang tercela dalam Islam. Sebab, orang yang meminta pada dasarnya punya latar belakang. Sebagaimana analisis Dr. Sayyid Muhammad Nuh dalam bukunya ‘Afatun ‘Ala athThariq, paling tidak ada beberapa faktor yang mendorong seseorang berambisi menjadi pemimpin, di antaranya ingin menguasai dan mengendalikan orang lain. Diperbolehkan apabila umat Islam yang menghendakinya agar seseorang menjadi pemimpin, sebagai ‘ibroh (pengajaran): Allahu Yarham al-Ustadz Drs. H. Abdul Halim Harahap (semoga Allah menerima amal sholihnya dan ditempatkan ke dalam tempat yang sebaik-baiknya. Amin). Dia adalah tokoh yang dipinta oleh umat sebagai pemimpin. Masih adakah tokoh Islam yang sekharismatik seperti beliau pada saat sekarang?

Akhirnya, renungan buat calon pemimpin untuk lebih mengedepankan kemaslahatan umat Islam. Galanglah kekuuatan atas nama kemaslahatan umat Islam bukan kepentingan pribadi/golongan atau partai. Kalau umat Islam salah melangkah maka tunggulah kehancurannya. Rasulullah SAW berpesan: Seorang Mukmin tidak akan masuk ke dalam satu lubang yang sama untuk kedua kalinya (HR Muslim) Artinya, jangan sampai umat Islam di Indonesia kembali menelan pil pahit yang memudharatkan untuk kesekian kalinya. Wallahu a’lamu bis ashshawab

Satu Tanggapan

  1. karsa atau Kaji? aku tidak akan memilih,salahkah aku.

    golput juga pilihan kok mas. he he he he

Tinggalkan Balasan