Heboh Kenaikan BBM

Sabar… sabar.. sabar, berita jika pemerintah akan menaikkan Bahan Bakar Minyak pada akhir bulan mei membuat semua kalangan gelisah. Yah… pantas bila gelisah, sebab kenaikan BBM tak urung akan di ikuti oleh kenaikan harga sembako. Lho…. kian hari rakyat akan kian “pilu”, kata seorang demostran.
Yah begitulah nikmatnya menjadi rakyat, bisa memprotes kebijakan pemerintah namun tidak akan pernah diprotes oleh pemerintah yang berkuasa. Begini sobat-sobatku sebagaimana anda sayapun akan merasakan dampak dari kenaikan BBM, namun permasalahannya….. apakah dengan memprotes kebijakan pemerintah semua akan usai?, Bukankah negara kita memiliki kantong-kantong oposisi yang senantiasa melaksanakan koreksi terhadap kebijakan pemerintah?.

Tanpa bermaksud mengecilkan rekan-rekan atau saudara-saudara kita yang telah bersusah payah memperjuangkan nasib kita, apa tidak sebaiknya kita lakukan antisipasi terhadap dampak kenaikan BBM di kalangan keluarga kecil kita dulu?, misalnya kita mencari celah menambah income agar survive akan dampak kenaikan BBM.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kebebasan media seringkali membuat kita resah hingga terpancing “latah” untuk ikut-ikutan melakukan koreksi terhadap kebijakan Pemerintah pusat. Di berbagai kalangan membahas isu kenaikan BBM di akhir bulan mei dimana pun mereka berada tanpa menghasilkan apa-apa. Pertanyaannya untuk apa semua ini mereka lakukan?
Untuk skala keluarga Preventif terhadap kenaikan BBM lebih bermanfaat daripada melakukan debat kusir terhadap sesama teman mengenai hal tersebut.
Memang selama ini kepercayaan kita pada pemerintahan senantiasa mengalami degradasi, “ Mulai dari adanya anggota dewan yang korup, hingga pada tingkat kelurahan yang tidak juga bersih atau korup. Tapi apakah semua itu selesai hanya lewat hujatan, bukankah sejarah telah membuktikan bahwa seseorang yang dulunya reformis ketika mendapat tempat di dewan yah payah……. ilang reformisnya, koruptor jadinya. Tidak semua sih namun banyak juga 
Kembali lagi ke pokok bahasan,

boleh seseorang menghujat kebijakan pemerintah namun jangan lupa akan kewajiban kita sebagai : seorang anak, seorang bapak, seorang ibu, seorang warga negara…… dan sebagai sebagai yang laen. Pertanyaannya sudahkah kita memenuhi tugas dan kewajiban kita?.

Berlanjut

Tinggalkan Balasan