Nikmat kerja siapa yang dapat !!!!Tidak banyak mereka yang bekerja mendapatkan kenikmatan dalam bekerja. Ketika kita merasa apa yang sedang kita kerjakan merupakan tugas yang mesti terselesaikan, maka niscaya kejenuhanlah yang kita dapatkan.
Nikmat bekerja tak sembarang orang dapatkan, bagaimana cara kita mensiasati untuk dapatkan nikmat kerja?. hmm tidak sulit namun tidak juga mudah. so apa yang mesti kita lakukan?
Oke mari kita coba untuk sadarkan diri sejenak, ada beberapa pertanyaan untuk menemukan jawaban agar kita dapat menikmati kerjaan yang sedang kita emban.
- Untuk apakah kita bekerja?
- Mengapa kita harus bekerja?
- Sementara apakah kerja itu?
Ketika kita merasa bahwa kita bekerja semata-mata untuk mendapatkan imbalan, maka kita tak dapat bekerja sebebas mungkin, diri tarasa dalam tekanan. Bukankah diri kita merdeka?… ya kita merdeka. jangan pernah takut pada atasan terhadap kerjaan yang telah kita lakukan…. bila kita telah melakukannya sebaik-baiknya. so untuk apa kita kerja? begini ceritanya, kita bekerja semata-mata hanya untuk memperoleh rizky dalam rangkaian ibadah kepada Pencipta.
Mengapa kita harus bekerja, bekerja hukumnya wajib!!!, sebagai langkah ikhtiar kita, sebagai rasa syukur kita atas karunia Pencipta yang membekali kita dengan anggota tubuh pun fikiran sempurna.
Sementara apakah kerja itu, kerja mengandung makna melaksanakan perintah secara lahiriah, berkaitan dengan kelangsungan ekstensi kita sebagai manusia. sehingga dalam hal ini menjadi, bekerja untuk mencari nafkah, bekerja untuk mendidik keluarga, bekerja untuk meningkatkan kemaslahatan, bekerja untuk … dan untuk yang lain.
Dengan demikian apa bedanya kerja di kantor, wiraswasta, mendidik keluarga, maupun kerja yang bersifat ke Illahiahan berupa jihat. dalam hal ini tiada bedanya walaupun dalam konteks yang berbeda beda.
Bila anda mengalami stress kerja, berarti ke ikhlasan anda dalam melaksanakan tugas yang anda emban masih dirasa belum memadai. Sekian
DIarsipkan di bawah: campuran | Ditandai: NIKMAT KERJA


Inggih leres meniko kang bargowo, pripun tasih sering ndalang kang?