Atas nama cinta

Tak jarang seseorang menangis karena cinta, ada juga seseorang bahagia karena cinta. Apakah cinta itu? siapa pemilik cinta? mengapa kita harus senang atau sedih karena cinta

Tidak dapat dipungkiri cinta adalah rahmat Illahiah, sebagaimana rahmad pada umumnya cinta mempunyai makna sakral, yaitu saling memberi dan menerima. Cinta bukan untuk dimiliki namun cinta untuk dinikmati. Apa yang terjadi bila seseorang memiliki cinta? Pastilah dia terombang ambing olehnya, namun apabila seseorang menikmati cinta pastilah kesahajaan akan senantiasa tercipta karenanya.

>> Cinta memberi dan menerima…… bukan menerima dan memberi <<

Berkaitan dengan konteks diatas maka hendaklah seseorang atas nama cinta memberikan sesuatu yang terbaik pada sesuatu atau seseorang yang dia cintai bukan sebaliknya. Bila cinta sebatas koridor pengharapan pemberian dari sesuatu atau seseorang maka niscaya keberadaan cinta tak lagi membahagiakan.
Secara implisit bila seseorang menikmati sebuah cinta niscaya ia akan merasa bahagia apabila apa yang dia cintai bahagia. Namun bila cinta menjadi kepemilikan dari seseorang maka seringkali cinta akan merubah watak dan perilaku seseorang.
Misalnya, sifat cemburu berasal dari paradikma kepemilikan cinta.

Cinta adalah buta? Penghalalan terhadap segala tingkahlaku guna peraihan cinta. Yah miskin makna donk kalo gitu…..

Cinta sejati adalah cinta Illahi pada Hambanya
Cinta yang tulus adalah cinta seseorang pada dirinya sendiri
Cinta yang konyol adalah cinta seseorang yang menghamba pada cinta orang lain

Ah entahlah,…… begitulah cinta dalam bermilyar makna namun masih nikmat jua terasa. Ingat… nikmati cinta, jangan kau menjadi pemilik cinta agar kau tak pudar oleh waktu

Tinggalkan Balasan