“Romansa”,
(Dalam sebuah paradox intuisi jiwa)
Kini romansa berdiri tegak
Tanpa tinggalkan sembilu
Romansa mulai mekar tersenyum
Dengan segala sanjung dan lara tercipta
Kemarin romansa tergadaikan
Kemarin romansa terkulai
Kemarin romansa tiada daya, tuk berharap
Namun kini romansa dapat cibir galau
Dalam seribu petaka
Dalam sejuta aza
Dalam semilyar wacana
Romansa telah kembali tersenyum, sejuk, ciptakan sahaja tiada terkira
Sampai kapan romansa tegar
Entahlah !
Semoga selamanya
Betulkah?
Dalam jinak pikir yang ada hanyalah sahaja.
Dalam gundah lana yang tercipta hanyalah aza.
Akankah keduanya datang dan pergi silih berganti?
Adakah keduanya ombang-ambingkan fantasi?
Semua tergantung kita dalam menyikapi dan menindak lanjutinya
Written by adiost, Citra candika 22 Feb 2008
