Kau gadai kemerdekaan tuk dapatkan rupiah
Kau bangkitkan micro ekonomi bangsa yang terlena
Walau pengabdianmu tuk pundi rupiahmu
Tak terpungkiri jasamu, kokohkan pondasi negeri
Sekarang, apa yang kau dapat…?
Sebandingkah antara rupiah dengan jiwamu yang terkungkung birokrasi?
Ah……. mungkin sekarang bukan saatnya engkau berfikir
Sebab ketakutan esok hari yang kau fikirkan
Ku mohon maaf untukmu wahai jiwa-jiwa yang tergadaikan
Tak terfikir tuk hujat engkau dalam elegi berfikirmu
Kau nampak benar dalam ekosistemmu
Namun jiwamu menangis saat kebebasanmu terjual belikan
Saat kerja adalah saat penjajahan
Kau ter isolasi dari keluarga dan kerabat yang kau kagumkan
Tiada guna pengabdianmu di masa mendatang
Siapa yang peduli terhadap kau, saat tugas tak lagi kau emban?
Buruh bagaikan budak yang siap dijadikan tumbal tuk produksi pundi-pundi harta penguasa. Hmm…., namun dalam konteks kontemporer bukankah kita semua buruh? “, Buruh untuk keluarga maupun diri sendiri. Bukan !!!!! lantang jawabku.
!!!…. Trusss………..
Ah Entalah….. namun coba lakukan yang bisa dilakukan, berusaha lakukan yang belum bisa dilakukan, ” dalam kesederhanaan kemampuan
